Tim Tinju (Siaga Bencana) Desa Lempuyang

Kondisi alam di wilayah Desa Lempuyang harus di kelola dengan baik dan bijaksana, termasuk dalam mensikapi terjadinya bencana. Cara pandang masyarakat dalam menghadapi bencana harus di ubah dari yang semula responsif menjadi preventif yaitu pengelolaan resiko bencana, hal ini sesuai dengan semangat yang menjiwai UU Penanggulangan Bencana no 24 Tahun 2007. Desa Lempuyang ini mempunyai misi untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan warga masyarakat terkait bencana banjir dan menjadi momen yang strategis bagi masyarakat di Desa Lempuyang.

Masyarakat harus di latih dan memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi bencana serta kesiapsiagaan harus menjadi manfaat dalam mengantisipasi jatuhnya korban jiwa. Pada Tahun 2018 ini Desa Lempuyang membentuk Tim Tinju ( Tim Siaga Bencana ) sebanyak 30 orang. Tim Tinju ( Tim Siaga Bencana ) merupakan pihak yang diyakini oleh semua orang akan menembus segala batas dan rintangan yang ada. Mengapa ? Karena mereka berasal dan dipilih oleh masyarakatnya untuk cepat menganalisa situasi, cepat berencana, dan yang penting Cepat Tepat dalam bertindak.

Pada bulan Oktober 2008, telah terbentuk Tim Tinju ( Tim Siaga Bencana ). Mereka ini adalah Institusi Penaggulangan Bencana Berbasis Masyarakat ber SK Desa, sejak keluarnya Undang-Undang Penanggulangan Bencana No. 24 Tahun 2007.
Kalau ingin mengenal mereka dari dekat, datanglah dan saksikan kiprah mereka di Desa Lempuyang.

Perwakilan masyarakat andalan dalam hal Penanggulangan Bencana di daerahnya itu, membagi dirinya dalam Regu-Regu sesuai fungsi dan tindakan mereka Sebelum, Pada Saat, dan Setelah Bencana. Regu-Regu dalam Tim Penanggulangan Bencana di Mentawai meliputi :

  1. Regu Peringatan Dini, mereka ini berfungsi sebagai pembantu Pak Kepala Dusun dalam memutuskan perlunya mengungsi ke tempat tinggi ataupun tidak. Untuk itu mereka telah memiliki kesepakatan bunyi tanda bahaya yang disosialisasikan pada warganya.
  2. Regu Pengungsian / Evakuasi, mereka inilah yang akan memastikan bahwa kelompok rentan (para orangtua, wanita hamil, wanita menyusui, orang sakit dan orang cacat) akan mengungsi sebagaimana mestinya. Sebelum bencana regu ini idealnya sudah mempersiapkan daerah yang layak menjadi tujuan pengungsian.
  3. Regu Pemetaan, berfungsi mengajak warga untuk mengenal lokasi-lokasi yang aman dan layak untuk dijadikan jalur evakuasi dan tempat menyelamakan diri. Mereka juga akan mampu menunjukan deerah dibawah ancaman bencana.
  4. Regu Perintis, berfungsi sebagai “pembuka jalan-jalan” yang memudahkan masyarakatnya mencapai daerah-daeah yang diharapkan seperti sumber air saat di pengungsian, tempat buang hajat agar sanitasi tetap terjaga, dan juga tempat memperoleh makanan cadangan. Oleh karena itu orang yang masuk regu ini haruslah orang yang paham betul seluk beluk wilayahnya.
  5. Regu Administrasi, Regu ini akan menyiapkan data-data serta kebutuhan administrasi yang dibutuhkan. Hal Administrasi merupakan hal yang paling menentukan kecepatan serta ketepatan penanganan masalah. Contoh: tak mungkin dicapai kesepakatan kebutuhan jumlah bahan makanan yang dibutuhkan apabila warga tak tahu berapa jumlah keluarga, dan anggotanya. Selain itu penyaluran bantuan akan menjadi lebih tertib dan cepat bila sudah tersedia hal-hal administratifnya.
  6. Regu Logistik dan Perlengkapan, regu ini akan cepat bertindak meyediakan peralatan dan bahan yang dibutuhkan saat bencana maupun setelah bencana. Contohnya : penyediaan tenda, alat masak, dan beberapa alat pertukangan yang diperlukan dalam membangun tempat hunian sementara di pengungsian.
  7. Regu Pencarian dan Penyelamatan, sering juga disebut Regu SAR. Merekalah yang akan mencari serta menyelamatkan yang hilang.
  8. Regu Dapur Umum, menyediakan makanan sehat yang dibutuhkan paling tidak disaat-saat awal setelah bencana. Regu ini mungkin tak akan banyak berfungsi lagi saat para keluarga telah dapat mengupayakan makanannya sendiri.
  9. Regu Kesehatan dan Pertolongan Pertama saat Kondisi Darurat, Regu ini bertugas mengobati yang luka akibat bencana. Dengan harapan peluang hidup korban menjadi lebih besar, untuk korban luka parah, tetap harus dirujuk ke Puskesmas ataupun Rumah Sakit terdekat.
  10. Regu Keamanan, menjamin tertibnya kegiatan pengungsian dan penyaluran bantuan. Juga memastikan para kelompok rentan menjadi prioritas dalam mendapatkan bantuan.
  11. Regu Penanganan Kebakaran, Regu ini akan waspada terhadap bahaya kebakaran yang mungkin timbul akibat kepanikan saat bencana. Regu ini juga akan mengadakan penyuluhan2 kewaspadaan terhadap bahaya kebakaran hutan.
  12. Regu Informasi, Dokumentasi dan Hubungan Luar, Regu ini akan menjalin hubungan dengan pihak-pihak diluar komunitas masyarakat, dalam melaporkan serta mengupayakan hal-hal lain yang belum ada. Regu ini juga menjamin informasi dari pihak luar akan didapatkan oleh warga masyarakatnya. Oleh karenanya regu ini akan akrab dengan alat komunikasi serta media informasi. (Admin-1).
Facebook Comments
Posted in Kabar Desa, Lingkungan, Penggunaan Dana Desa, Potensi Desa, Tokoh Masyarakat.

Tinggalkan Balasan